FootBinding, Tradisi di China yang Cukup Mengerikan

Footbinding atau pengikatan kaki adalah suatu tradisi yang dijalankan oleh wanita-wanita Cina pada zaman dulu dengan cara mengikat erat kaki seorang wanita hingga berukuran 3 inci atau kurang lebih 7 cm. Dalam bahasa Cina, pengikatan kaki disebut Chanzu, tetapi karena bentuknya yang menyerupai bunga lotus yang belum mekar, masyarakat Cina lebih mengenalnya dengan sebutan Jinlian yang berarti Bunga Lotus Emas.

footbinding 01
footbinding 02
Tidak ada sumber tertulis yang mencatat sejak kapan tradisi ini dilakukan. Ada beberapa cerita rakyat dan legenda mengenai bagaimana tradisi yang menyakitkan ini dimulai. akan tetapi beberapa sumber menyatkan bahwa tradisi ini mulai berkembang pada masa Dinasti Tang / Tangchao (618-907) di abad ke-10. Seorang wanita yang akan menjalani proses pengikatan kaki atau footbinding biasanya berusia antara 5-7 tahun. Proses ini dilakukan sebelum lengkungan pada kaki mempunyai kesempatan untuk berkembang sebagaimana mestinya.
Meskipun proses ini bisa dilakukan lebih awal pada usia 2 tahun, ataupun dilakukan pada usia 12 atau 13 tahun, tetapi usia yang ideal untuk menjalankan tradisi ini adalah pada saat mereka berusia 6 tahun, karena pada saat itu sebagian besar tulang kaki masih merupakan tulang rawan, sehingga dapat lebih mudah dibentuk.
footbinding 03
footbinding 04
Sebelum pelaksanaan upacara pengikatan kaki, ibu dari wanita yang kakinya akan diikat, membuat sepasang sepatu yang panjangnya 1,5-2,5 inci (± 4-7 cm). Sepatu ini dibuat menggunakan kain terbaik yang dapat disediakan oleh keluarga wanita tersebut. Sepatu ini biasanya berwarna merah, yang merupakan warna simbol keberuntungan. Upacara pengikatan kaki ini biasanya dimulai pada saat musim gugur, hal ini dialakukan agar dinginnya musim dingin akan membuat kaki menjadi mati rasa pada bulan-bulan pertama pengikatan kaki.
Waktu yang paling umum untuk melaksanakan proses pengikatan kaki ini adalah pada tanggal 24 bulan 8 penanggalan Cina, yang bertepatan dengan hari ulang tahun Dewi tak Dikenal “Dewi Kaki Kecil“, dewi pelindung pengikatan kaki. Pelaksanaan tradisi pengikatan kaki ini juga biasa dilakukan pada tanggal 19 bulan 2 penanggalan Cina, yang merupakan hari ulang tahun Dewi Kuan Im atau Dewi Welas Asih. Malam sebelum pengikatan kaki dilaksanakan, ibu dari wanita yang kakinya akan diikat tersebut, meletakkan sepatu yang telah ia buat di atas altar Dewi Kuan Im dan mempersembahkan bola-bola nasi ketan kepada Dewi Kaki Kecil. Selain itu mereka juga meletakkan buah-buahan dan kue sebagai persembahan kepada sang Dewi. Kemudian ia akan membakar dupa dan berdoa agar proses pengikatan kaki tersebut dapat menghasilkan kaki kecil yang sempurna. Kaki yang sempurna adalah kaki yang panjangnya 3 inci (7,5 cm). Kaki yang berukuran 3 inci akan mendapat julukan sancun jinlian, atau Golden Lotus / Teratai Emas.
Upacara tradisi pengikatan kaki ini dimulai dengan merendam kaki “si gadis kecil” yang akan melakukan tradisi footbinding dengan air panas, darah hewan atau campuran berbagai macam ramuan tumbuh-tumbuhan, dengan tujuan untuk melembutkan kulit. Di provinsi Shanxi, seekor domba akan dikorbankan dalam proses pengikatan kaki ini dan kaki si anak akan dimasukkan ke dalam perut domba tersebut, kemudian dibiarkan selama kurang lebih dua jam. Di provinsi Jiangxi, kadang-kadang seekor ayam yang masih hidup akan digunakan dengan cara yang sama.
Setelah direndam, kaki tersebut akan dipijat dan digosok untuk menghilangkan kulit mati. Proses tersebut akan dilanjutkan dengan memotong kuku kaki sependek mungkin, untuk mencegah timbulnya infeksi selama berlangsungnya proses pengikatan kaki. Kemudian di antara jari-jari kaki akan disebarkan tawas. Tawas digunakan untuk mengerutkan jaringan kulit dan pembuluh darah, sehingga dapat mengurangi pendarahan yang mungkin terjadi. Tawas juga membantu dalam mengontrol keringat, yang akan menimbulkan masalah bagi wanita yang kakinya diikat, karena keringat dapat menyebabkan bau busuk dan infeksi.
Proses pengikatan kaki akan dilanjutkan dengan membalut kaki yang akan diikat. Pembalut ini biasanya terbuat dari kain katun berwarna putih atau biru, yang lebarnya 2 inci (5 cm) dan panjangnya 10 kaki (± 3 meter). Kain tersebut telah dipersiapkan dengan cara direndam dalam darah ataupun ramuan tumbuh-tumbuhan yang sebelumnya telah digunakan untuk merendam kaki “si gadis kecil”. Kemudian keempat jari kaki akan dilipat ke arah telapak kaki dan dibalut dengan pembalut yang masih basah sehingga ketika pembalut tersebut kering, ikatan kaki akan menjadi semakin erat.
Pembalut akan dililitkan dari bagian atas kaki diantara jari-jari kaki dan mata kaki (kura-kura kaki) mengelilingi lipatan jari-jari kaki, kemudian ditarik kearah berlawanan menuju tumit, pembalut dilitkan dengan erat di sekitar tumit, sehingga menekan tumit dan jari-jari kaki secara bersamaan. Proses pengikatan yang erat ini akan terus dilanjutkan sampai seluruh pembalut telah dipergunakan. Setelah itu, ikatan tersebut akan dijahit di beberapa tempat. Hal ini dilakukan untuk melindungi agar ikatan tersebut tidak terurai danjuga untuk menjaga agar “si gadis kecil” tidak dapat menguraikan ikatan tersebut. Dari beberapa kejadian, untuk membuat kaki menjadi semakin kecil, pecahan gelas atau kerikil akan diletakkan di dalam ikatan untuk memotong kulit dan membantunya agar cepat membusuk.
Setiap dua atau tiga hari sekali, ikatan akan dibuka, kaki akan dicuci dan dipakaikan tawas, kemudian diikat kembali dengan lebih erat. Untuk membantu pembentukkan kaki, ibu “si gadis kecil” akan memakaikan sepatu yang mereka buat, kemudian memaksa “si gadis kecil” untuk berjalan berkeliling. Proses pengikatan ini terus akan terus menerus dilakukan hingga seorang wanita memiliki kaki yang dianggap sempurna tau mendekati sempurna.
footbinding 05
Ciri-ciri utama dari kaki sempurna menurut masyarakat Cina pada masyarakat tradisional Cina antarta lain:
  1. Panjang kaki tidak boleh lebih dari 3 inci
  2. Jarak kelengkungan antara tumit dan telapak kaki harus sedalam 2-3 inci.
  3. Telapak kaki harus tampak seperti perpanjangan kaki dan bukan tampak sebagai penopang tubuh.
Bisa dibayangkan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mementuk kaki yang dianggap sempurna dan bagaimana penderitaan yang harus mereka alami ketika menjalani proses pengikatan kaki tersebut. [sumber]